Tampilkan postingan dengan label bersyukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bersyukur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2008

Proud to be Indonesian Women

Wanita Indonesia ideal, awalnya yang terlintas dalam benak saya ketika memikirkan kata itu adalah seorang perempuan Indonesia yang dengan bangga memiliki kulit cokelat keemasan yang menjadi dambaan jutaan wanita eropa, berkepribadian halus, kreatif menghadapi berbagai kesulitan hidup, mampu berperan ganda dan rela berkorban demi keluargannya. Tapi setelah mengamati wanita-wanita di sekitar saya bayangan tersebut berubah menjadi perempuan Indonesia yang berlomba-lomba menjadi seputih bintang iklan pemutih, secantik model Revlon, memiliki tubuh sekurus mungkin namun beberapa bagian tubunya dibuat semenonjol mungkin, rambut panjang berwarna cokelat yang diberi highlight disana-sini yang menggunakan barang-barang bermerek. Sosok konsumerisme tingkat tinggi.

Kesenjangan sosial yang begitu terasa di Indonesia mungkin menjadi penyebab wanita Indonesia takut menjadi dirinya sendiri. Takut dipandang rendah oleh masyarakat sehingga cenderung untuk menjadi follower trend yang berkembang yang akhirnya mereka kehilangan jati dirinya. Sayang sekali jika potensi yang dimiliki banyak wanita Indonesia harus terkubur hidup-hidup hanya karena ia merasa tidak cantik, tidak pantas untuk bersaing. Jika situasi ini dibiarkan akan menyulitkan posisi wanita Indonesia dalam persaingan bebas yang menjadi salah satu tantangan abad ke 21. Wanita Indonesia akan tidak memiliki ciri khas dan takut berkembang.

Jawaban permasalahan ini sebenarnya sederhana, kita sebagai wanita harus dapat mengenali diri sendiri dan menyadari hak dan kewajiban kita. Mengenali diri sendiri berarti kita berusaha mengetahu apa saja kelebihan diri kita dan berusaha mengembangkan potensi yang kita miliki tersebut hingga dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kelemahan yang kita miliki jangan menghalangi kita untuk berkembang tapi kita harus memandangnya sebagai keunikan masing-masing pribadi. Pandanglah diri kita sebagi bunga mawar cantik yang memiliki duri pada tangkainya bukan tangkai berduri yang berbunga mawar.

Sebagi wanita kita tidak hanya harus mengenali diri sendiri tapi juga harus tahu dengan jelas apa hak dan kewajiban yang kita miliki. Saya melihat masih banyak wanita Indonesia yang mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan, hal itu dapat dicegah jika kita sebagai wanita tahu apa hak dan kewajiban kita, sampai dimana batasan kita. Sehingga kita berani menolak dan berkata tidak pada hal yang diluar batas.

Mengenal diri sendiri akan memudahkan kita mengembangkan potensi yang kita miliki sedang menyadari hak dan kewajiban sebagai wanita akan memperjelas batas ruang gerak kita dalam mengembangkan diri. Karena pohon mawar yang cantik pun akan berubah menjadi semak belukar bila dibiarkan tumbuh liar tanpa batas. Mari bersama kita melangkah maju menghadapi tantangan abad ke 21 sebagai wanita Indonesia. Wanita cerdas yang bangga menjadi dirinya, tidak minder, tidak ikut-ikutan, berani bersinar dan aktif bekerja sama membantu wanita lain untuk bersinar. Ada yang punya pendapat lain atau ingin menambahkan, silahkan sharing .....

Minggu, 05 Oktober 2008

bersyukur

Terkadang kita hanya melihat masalah dari sisi penderitaanya saja
kita tidak melihat bahwa dibalik setiap masalah ada hikmahnya


Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat

membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang

yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti

mengeluh dan mulai bersyukur.


Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan

membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain

lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih

tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.


Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di

pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.

Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu, Lulu."

Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang

ini. Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu."

Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut

melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan

berteriak, "Lulu, Lulu".

"Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?" tanyanya keheranan.

Dokter kemudian menjawab, "Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu."


Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.

Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut

karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia

menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal,

yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat,saya sangat bahagia

karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya

juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di

surga."