Jumat, 16 April 2010

KALAU SAYA JATUH CINTA LAGI

"Kalau saya menikah lagi, itu murni karena saya suka dengan gadis itu. Saya jatuh cinta. Titik."

Santai, santun meski ceplas ceplos begitulah kesan saya tentang Pak Haris. Pimpinan sebuah penerbitan di Solo yang saya temui dalam suatu kesempatan.

saya lupa bagaimana awalnya hingga Pak Haris menyinggung poligami. kebetulan saya tertarik dengan persoalan ini, dan sedang menulis sebuah novel bertema poligami yang penggarapannya sangat menyita energi.

saya ingin mendalami pikiran laki-laki. sebenarnya apa yang ada dikepala mereka ketika menikah lagi? awalnya saya kira seperti lelaki lain, Pak Haris akan mengelak atau memberi jawaban ala kadar. ternyata...

"sejujurnya mba asma, hanya ada satu alasan inti kenapa lelaki menikah lagi."

saya dan seorang teman saat itu langsung menyimak baik-baik.

"dan itu bukan karena menolong, bukan karena kasihan, atau alasan lain. saya lelaki. dan kalau saya menikah lagi itu murni karena saya suka dengan gadis itu. saya jatuh cinta. titik."

wah, jujur sekali. pikir saya salut.

dialog yang berawal di rumah makan berlanjut ke dalam mobil. saya dan teman yang memang bekerja dipenerbitan yang dikelola Pak Haris kemudian mengunjungi penerbitan beliau. saya diperkenalkan kepada beberapa pegawai dan juga produk-produk mereka.

disofa tamu, obrolan berlanjut lagi.

"sebenarnya ramadhan kemarin saya tergoda sekali untuk menikah lagi. sungguh keinginan itu datang begitu dahsyatnya."

"padahal ramadhan ya pak?"

lelaki itu tertawa, mengiyakan.

"dan saya kira saya hampir saja berpoligami, kalau saja saya tidak bertemu seorang teman. ikhwan yang memberi satu pernyataan yang luar biasa benar dan akhirnya mengubah niat saya"

dalam hati saya menebak-nebak kemana penjelasan Pak Haris berikutnya.

:ikhwan itu berkata begini, mbak asma.... jika saya menikah lagi : pertama, kebahagiaan dengan istri kedua belum tentu... karena tidak ada jaminan untuk itu. apa yang diluar kelihatan bagus, dalamnya belum tentu. hubungan sebelum pernikahan yangsepertinya indah belum tentu terealisasi indah. sudah banyak kejadian seperti itu"

benar sekali, komen saya dalam hati.
"yang kedua, pak ?"

lelaki itu terdiam lalu menatap saya dengan pandangan serius.

"sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan itu akan abadi"

saya melihat Pak Haris menarik nafas panjang sebelum menuntaskan kalimatnya,

"sekarang bagaimana saya melakukan sebuah tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil resiko yang kerusakannya pasti dan permanen?"

* * *

dialog diatas terjadi bertahun-tahun lalu. saya tidak tahu bagaimana kabar Pak Haris sekarang, apakah masih berpegang teguh pada masukan si ikhwan itu atau tidak.

saya sendiri menerima aturan poliigami yang memang ada dalam al-quran, tetapi cenderung menyetujui pendapat seorang ustad muda yang mengatakan asal syariat poligami pada dasarnya adalah monogami. artinya dalam keadaan normal, monogami tetap lebih utama.

betapapun sunguh saya iri terhadap para istri yang sanggup mengikhlaskan suaminya menikah lagi. hal ini tentu teramat sulit . bagaimana bisa pasangan hati yang selama bertahun-tahun hanya menumpukan perhatian pada kita sebgai satu-satunya istri?

rasa iri tadi ditambah dengan kesedihan yang luar biasa, saat menyadari beta mudahnya lelaki kemudian menelantarkan istri pertama dan anak-anaknya.

untuk kebahagiaan yang belum pasti?

teringat seorang teman asal malaysia yang saya temui di seoul. lelaki yang dengan lantang menerangkan statusnya, ketika ditanyakan berapa anak yang Allah telah karuniakan kepadanya,

"dari istri pertama ada tiga. dari istri kedua belum ada ..."

barangkali karena merasa bertemu dengan muslim dinegri yang sebagian besar penduduknya non muslim itu, hingga dia menjadi terbuka kepada saya.
apalagi setelah saya katakan bahwa saya adalah seorang penulis.

pernikahan kedua itu tidak pernah direncanakan
"ini takdir" katanya "saya tidak pernah sengaja mencari istri lain"

saya diam saja. tidak hendak berdebat soal itu.

hanya setelah saya tanyakan kerepotan memiliki dua istri, ceritanya semakin menarik. terakhir saya tanyakan apakah dia merasa lebih bahagia setelah menikah lagi?

mendengar pertayaan saya, lelaki bertubuh tingi itu tampak termenung cukup lama sebelum menjawab,

"yang sudah terjadi tidak boleh lah kita sesali"

menatap senyum getir lelaki itu, seketika ingatan saya terlempar pada kalimat terakhir Pak Haris beberapa tahun yang lalu.

dicopas dari novel "catatan hati seorang istri"-nya Asma nadia

2 komentar: